Cerita Tour Leader Els Queen Tour Rohani Toraja-Makassar 5 Hari 4 malam

Share with love
  • 1
    Share

Tour Leader: Cahya Handoyo

Driver Bus : Hernanda

Guide: J.U. Siregar

Tamu: Rombongan Ibu Anastasia bersama Sr.Gaby dan Sr.Susan Dari Kalimantan Timur

Transportasi : Bus Pariwisata di makassar dari Els Queen Transport

Team : Els Queen Wisata

 

Day 1

Di pagi hari yang cerah itu, sambil menikmati secangkir kopi hangat saya menanti kedatangan rekan-rekan saya. “Selamat pagi..!” terdengar suara hangat dari seseorang yang datang. Akhirnya datang rekan-rekan saya! Setelah berkumpul, kami bertiga bersiap dan melakukan briefing. Siapa kami? Apa yang akan kami lakukan? Yap, sebelum anda menebak, saya akan menjawab. Kami adalah kru Els Queen Wisata yang akan menemani para peserta tour dari Kalimantan Timur untuk melakukan perjalanan wisata ke Toraja dan Makassar.

kru Els Queen Wisata (Tour Leader & Driver

“Pak, pesawat kami sudah mau take off ya”. Begitu suara seorang ibu yang berbicara ditelepon. Mendengar informasi tersebut, kami dengan sigap langsung berangkat menuju Bandara Hasanuddin untuk menjemput para peserta tour. Sesampainya dibandara, seperti biasanya untuk tamu Tour Els Queen kami siapkan penjemputan di area VIP, jadi bus kami parkir di area VIP supaya peserta tour tidak berjalan terlalu jauh untuk keluar dari area pengambilan bagasi. Setelah menunggu beberapa saat, muncullah sekelompok ibu-ibu berbaju merah, sejumlah 26 orang. Mereka berjalan kearah kami setelah melihat tulisan selamat datang yang kami bawa. Lantas para peserta tour kami persilahkan menaiki bus pariwisata makassar, dan kami aturkan barang dan koper para peserta tour kedalam bus, karena bagasi Bus pariwisata makassar els queen sangat besar dan memudahkan kami untuk pengaturan barang tamu.

Bapak sopir bus pariwisata makassar menginjak pedal gas tanda bus memulai perjalanannya menuju Toraja. Semua orang tersenyum bahagia karena perjalanan wisata telah dimulai. Begitu juga senyuman dan kata sambutan yang diberikan oleh guide kami untuk para peserta tour toraja. Bus melaju dengan sangat tenang, tidak terlalu kencang tidak terlalu lambat. Bus melaju melalui Kota Maros menuju ke wilayah Kabupaten Pangkajene Kepulauan ditemani cerita-cerita yang disampaikan oleh pemandu kami mengenai sejarah Kota Maros.

Bus melanjutkan perjalanan memasuki pertengahan Kabupaten Pangkajene Kepulauan atau yang biasa disingkat Pangkep oleh penduduk setempat. Di kanan kiri mulai banyak terlihat rumah-rumah penduduk yang masih tradisional. Rumah-rumah tersebut masih berbentuk rumah panggung yang merupakan rumah adat suku Bugis dan Makassar. Sampai ke Kabupaten Barru, pemandangan masih banyak berupa rumah-rumah tradisiional dan tambak ikan. Namun di Kabupaten Barru, jalanan yang kami lewati lebih dekat ke garis pantai daripada jalanan yang bearada di Pangkep. Sehingga di daerah Kabupaten Barru banyak terlihat garis pantai dan laut lepas.

Tak terasa sebentar lagi rombongan akan meninggalkan wilayah Kabupaten Barru. Eitss, tunggu dulu, sebelum meninggalkan Kabupaten Barru, sekitar 1-2 kilometer dari perbatasan Kabupaten Barru dan Kota Pare-Pare, kami singgah untuk makan siang di Kupa Beach. Kami tiba di Restaurant Kupa Beach pada pukul 11.00 siang. Kedatangan kami disambut oleh kru restaurant dengan handuk bersih dan welcome drink berupa Jus Markisa. Setelah menikmati segarnya jus Markisa, peserta tidak langsung duduk menuju ruang makan. Tertarik dengan indahnya pantai yang berada dibelakang restaurant, para peserta wisata rohani berbondong-bondong berjalan menuju tepi pantai dan berfoto-foto disana. Tampak jelas terlihat dari raut wajah para peserta yang begitu gembira menikmati pemandangan pantai dan berfoto ria. Setelah puas berfoto-foto ria, akhirnya peserta wisata berjalan menuju ruang makan untuk menikmati santap siangnya.

Usai santap siang, kami melanjutkan perjalanan kami menuju Kota Pare-pare, Sidenreng Rappang, lalu Enrekang. Ada hal yang menarik di sepanjang perjalanan di Kabupaten Sidenreng Rappang atau yang biasa disingkat Sidrap oleh penduduk setempat. DI Kabupaten Sidrap ini terdapat pembangkit listrik tenaga bayu(angin) yang terbesar se Indonesia. Sepanjang perjalanan tampak dari kejauhan kincir-kincir angin raksasa yang berjajar di atas perbukitan.

Memasuki wilayah Kabupaten Enrekang, jalanan berkelok-kelok. Wilayah Kabupaten Enrekang memang merupakan daerah pegunungan. Disinilah terdapat gunung tertinggi di Sulawesi Selatan, yaitu Gunung Latimojong dengan ketinggian 3500 mdpl. Meskipun kondisi jalan yang berkelok-kelok dan naik turun, peserta tour dibuat terpukau dengan keindahan pemandangan pegunungan selama perjalanan.

Meskipun hanya duduk, jalanan yang berkelok-kelok cukup melelahkan. Namun jangan khawatir, semua sudah direncanakan dengan matang. Ditengah-tengah perjalanan di Kabupaten Enrekang, tim Els Queen Wisata & Bus Pariwisata Makassar Els Queen sudah merencanakan dan mempersiapkan tempat persinggahan untuk beristirahat sejenak sambil meminum secangkir Kopi atau Teh. Terletak diatas pegunungan, Puncak Bambapuang memiliki pemandangan yang paling menarik. Oleh karena itu, banyak berdiri warung-warung makan dan warung-warung kopi di daerah ini. Tim Els Queen Wisata dan Driver Bus Pariwisata Makassar Els Queen telah memilah dari sekian banyak warung, dan didapat sebuah warung kopi yang nyaman. Akhirnya kami tiba di warung kopi tempat persinggahan kami pada pukul 15.20 sore. Di warung pilihan kami ini, peserta wisata dapat menikmati coffee break sambil melihat pemandangan gunung yang berada di seberang lembah yang dinamakan Gunung Nona.

Hilangnya rasa pegal di badan dan segarnya raut muka para kru Els Queen Wisata dan peserta tour menandakan bahwa kami sudah siap untuk melanjutkan perjalanan menuju Toraja. Bertolak dari Puncak Bambapuang, kami melanjutkan perjalanan panjang kami melalui jalan di pegunungan. Memasuki perbatasan wilayah Kabupaten Tana Toraja, yang ditandai oleh gapura selamat datang, nuansa jalanan berubah drastis. Dikanan kiri banyak berjajar bangunan-bangunan khas Toraja yaitu Tongkonan.

Kira-kira pukul 18.00 petang kami telah tiba di Kota Makale. Pusat Kota Makale tidak akan dapat luput dari perhatian. Hal ini disebabkan karena besarnya kolam ditengah Kota Makale. Kolam yang berada di tengah Kota Makale ini berdiameter puluhan meter. Terlalu besar untuk luput dari pandangan mata kita. Wisata Rohani tidak akan lengkap jika tidak mengunjungi gereja. Petang itu kami berkunjung ke salah satu gereja Katholik besar di Kota Makale. Disana peserta tour, terutama suster yang menjadi salah satu peserta tour kami, menyempatkan diri berdialog dengan salah satu pastor di gereja tersebut.

Bertolak dari gereja, perjalanan dilanjutkan. Sebelum beristirahat di hotel, peserta dijamu makan malam di restaurant monika tepat pukul 19.00. Direstaurant ini, mulai terasa kuat nuansa kuliner khas Toraja yang didominasi oleh menu ikan dan terutama Sayur Pakis yang menjadi menu andalan restaurant ini. Selain dijamu makan malam, peserta juga disajikan hiburan live music dari tim restaurant Monika. Peserta tour kami sangat senang dengan kehadiran live music tersebut. Malahan usai menyantap makan malam, para peserta wisata ikut maju bernyanyi dan berjoged ria di samping panggung.

Setelah semuanya kenyang dan senang, Tim Els Queen bersama Bus Pariwisata Makassar Els Queen mengantar rombongan menuju hotel untuk cek in dan beristirahat. Pukul 20.50 kami tiba di Hotel Indra Rantepao untuk segera beristirahat dan mempersiapkan diri untuk berangkat subuh pada keesokan harinya.

(Support: Sewa bus di makassar, rental bus pariwisata di makassar)

Day 2

Subuh pun tiba. Sebanyak empat unit mobil wisata telah siap didepan hotel. Mau kemana kita subuh-subuh begini? Bagi kalian yang menguasai lokasi wisata di Toraja, pastilah mengerti kami akan mengunjungi Lolai. Mengapa harus subuh? Lolai yang sering disebut Negeri Diata Awan ini memang paling menarik jika dikunjungi disaat fajar menyingsing. Itulah yang menjadi daya tarik objek wisata ini. Ketika matahari terbit, jika beruntung kita akan melihat hamparan awan dibawah kita sehingga seolah-olah kita sedang berada di sebuah negeri yang letaknya tinggi diatas awan-awan.

Kami pun segera menaiki mobil dan berangkat ke Lolai. Saat itu, langit masih gelap. Waktu menunjukkan pukul 03.30. Perjalanan dari Rantepao menuju Lolai ditempuh dalam durasi 30 menit jika jalanan sepi. Jalan yang dilalui sangat sempit dan curam. Itulah sebabnya untuk objek wisata yang satu ini kami menggunakan mobil kecil karena tidak memungkinkan untuk dilalui oleh bus pariwisata.

Kamipun tiba, sang surya mulai menampakkan cerahnya. Kamipun dibuat terpukau oleh keindahan pemandangan didepan kami. Sedikit demi sedikit, terkuaklah misteri dibalik gelapnya dini hari yang ternyata menyimpan hamparan awan yang luas. Sejauh mata memandang, terlihat hamparan putihnya awan di bawah kami. Salah satu peserta kami berkata “disini rasanya seperti melayang-layang diatas awan”. Ya perjuangan untuk bangun subuh dan menerjang jalan mendaki yang curam, terbayarkan sudah dengan keindahan alam yang disajikan oleh objek wisata Lolai.

Setelah puas memanjakan mata, kamipun turun kembali ke hotel. Waktu sudah menunjukkan pukul 06.30. Sudah waktunya untuk kami sarapan dan membersihkan diri untuk mempersiapkan diri mengunjungi objek wisata berikutnya. Peserta pun kembali ke hotel, dan kru Els Queen Wisata kembali ke basecamp untuk mempersiapkan perjalanan hari itu.

 

Pukul 08.30 kru Bus Pariwisata Makassar Els Queen telah tiba di depan Hotel dengan bus pariwisata. Lantas seluruh peserta naik ke bus dan melanjutkan perjalanan wisata hari ini. Lokasi wisata pertama yang akan dituju pada hari ini adalah Sa’pak Bayo-bayo Keluarga Kudus. Sapa’ Bayo-bayo merupakan salah satu tempat untuk berdoa Umat Katholik atau yang biasa disebut dengan Gua Maria. Setiba di Sapa’ Bayo-bayo, terlihat bebatuan dan pepohonan yang mengagumkan. Terlihat diantara bebatuan dan pepohonan, berdiri patung-patung yang dibuat untuk menceritakan kisah kelahiran Tuhan Yesus.

Kami berjalan menyusuri jalan, melalui jalan setapak sambal menikmati keindahan pemandangan di kanan kiri kami. Di ujung jalan, sudah tersedia suatu pelataran beserta altar untuk  berdoa. Disitu para peserta beribadah menurut liturgi Agama Katholik. Dengan dipimpin oleh Suster, ibadah dimulai. Peserta melantunkan nyanyian pujian rohani dan doa-doa. Usai beribadah, tidak lupa para peserta berfoto-foto bersama.

Perjalanan dilanjutkan untuk menghemat waktu supaya semua objek wisata yang direncanakan dapat dikunjungi seluruhnya. Tidak sempat berjalan melalui jalan salib karena rutenya yang jauh dan cukup terjal, pukul 11.00 rombongan wisata berangkat menuju Londa. Objek wisata Londa merupakan objek wisata berupa kuburan di tebing dan didalam gua yang menarik untuk dikunjungi.

Tiba di Londa, pemandu menjelaskan sejarah yang terjadi di Londa. Para peserta mendengarkan dengan seksama penjelasan mengenai kuburan di Londa. Ketika menghadap ke tebing kuburan di Londa, kami disuguhkan pemandangan peti-peti tua dan patung-patung kayu yang dinamakan Tau-tau. Tau-tau merupakan replika dari para leluhur yang dikuburkan di kuburan tersebut. Hanya orang-orang tertentu saja yang dibuatkan Tau-tau. Di Londa terdapan juga gua yang dipergunakan sebagai kuburan. Untuk masuk kedalam gua ini, kami diwajibkan menyewa lampu dan pemandu lokal. Hal ini dikarenakan kondisi gua yang sangat gelap, rumit dan jalan yang berbatu-batu. Sehingga diperlukan alat penerangan dan seorang pemandu yang sudah hafal betul kondisi didalam gua.

Kami menyewa lampu dan pemandu. Satu lampu satu pemandu dapat digunakan untuk kira-kira 10 peserta. Pada pintu masuk gua, terdapat beberapa tengkorak manusia dan tulang-belulang. “Ini semua asli pak?”, ujar salah satu peserta. “Iya ini semua tengkorak dan tulang-tulangnya asli. Jadi leluhur yang sudah dikubur sejak jaman dahulu sekali dan tinggal tulang belulang, tengkorak dan tulang-tulangnya dikeluarkan dipajang diluar begini.” Jawab salah seorang pemandu lokal. Dan benar saja, didalam gua cukup sulit medannya. Banyak bebatuan yang menghalangi jalan, sehingga kami perlu sedikit melangkah keatas bebatuan tersebut. Didalam masih ada tengkorak dan tulang belulang serta peti-peti mati. Tiba di salah satu titik, terdapat 2 tengkorak yang ditata bersebelahan. Ternyata ada legenda yang mirip dengan kisah Romeo & Juliet dibalik 2 tengkorak itu. Disinilah yang menjadi salah satu daya tarik Londa. Konon, tersebutlah sepasang kekasih yang tidak direstui hubungannya karena mereka masih memiliki hubungan darah. Hingga akhirnya mereka bersama-sama mengakhiri hidup mereka sendiri.

Rute gua didepan sana masih panjang. Namun medan yang akan dihadapi di bagian gua selanjutnya sangatlah sulit untuk dilalui, sempit dan banyak bagian yang harus menunduk. Karena sebagian besar peserta kami telah berusia lanjut, maka para peserta memutuskan untuk tidak melanjutkan rute gua yang ada didepan, namun memilih untuk memutar balik ke pintu masuk tadi. Keluar dari gua, para peserta pergi berbelanja karena banyak kios-kios cenderamata di pelataran Londa.

Sepeninggal dari Londa pukul 12.30. Kami berangkat menuju Resto Sale Bayu untuk makan siang. Sale Bayu berada berada ditengah sawah. Sehingga ketika makan di resto ini, kita disuguhkan pemandangan hamparan sawah yang luas. Jalan yang dilalui dari jalan poros ke resto juga melalui persawahan.

Setelah kenyang kami melanjutkan perjalanan kami ke objek wisata terakhir untuk hari ini yaitu Kete Kesu. Setiba di Kete Kesu, kami melihat deretan rumah Tongkonan berjajar-jajar saling berhadapan. Tampilan Tongkonan yang ada di Kete Kesu sedikit berbeda dengan Tongkonan yang kami lihat di perjalanan. Bentuk dan wujudnya sama, hanya atapnya masih murni menggunakan potongan-potongan bambu. Setelah mendengarkan cerita dari pemandu, barulah peserta wisata mengerti bahwa Tongkonan yang ada di sini umurnya sudah ratusan tahun. Sehingga wujudnya masih seperti aslinya di jaman dulu.

Di satu baris terdiri dari Tongkonan besar yang pada jaman dahulu difungsikan sebagai rumah tinggal. Sedangkan barisan yang berada di seberangnya adalah Tongkonan-tongkonan yang lebih kecil yang berfungsi sebagai lumbung padi. Selain deretan Tongkonan yang masih asli, terdapat juga kuburan yang berbentuk rumah-rumah yang bisa dilihat. Sepanjang jalan menuju kuburan-kuburan tersebut, di kiri kanan juga terdapat kios-kios cenderamata khas Kete Kesu. Banyak souvenir-suvenir menarik yang dijajakan oleh para pedagang. Sehingga para peserta tour cukup antusias berbelanja disini.

Selesai sudah kunjungan semua objek wisata untuk hari ini. Tidak lengkap rasanya berwisata jika pulang dengan tangan hampa. Oleh karena itu, rombongan wisata bergerak menuju toko-toko oleh-oleh. Yang pertama adalah toko oleh-oleh Todi. Toko ini hanya toko kecil, namun ada satu daya Tarik yang terdapat di toko ini. Toko ini menjual hasil kerajinan tenun yang masih menggunakan teknik tenun tradisional. Harga kain tenun di toko ini tergolong fantastis karena masih menggunakan cara tradisional, dan diproduksi dari bahan-bahan premium. Selain berbelanja, wisatawan juga dapat melihat langsung praktek dari proses penenunan kain dari serat katun hingga menjadi kain jadi. Selain produk tenun, di toko ini juga menyediakan beberapa jenis souvenir dan kaos yang harganya cukup diatas rata-rata karena produk disini dirancang untuk memiliki kualitas premium.

Dari toko Todi, kami meluncur mencari oleh-oleh yang lengkap variannya. Dimana lagi jika bukan kompleks pertokoan oleh-oleh Rantepao. Di kompleks pertokoan ini, terdapat oleh-oleh berupa snack khas Toraja, tas bermotif khas Toraja, gantungan kunci, hingga baju. Para peserta tour tampak bahagia berbelanja oleh-oleh. Setelah puas berbelanja kami melanjutkan perjalanan ke hotel untuk beristirahat sejenak dan mandi, sebelum nantinya akan dijemput kembali oleh kru Els Queen WIsata pada pukul 19.30 untuk makan malam di Ayam Penyet Ria.

 

Day 3

Pagi telah tiba. Hari ini adalah hari terakhir rombongan wisata berada di Toraja untuk berwisata. Seperti hari sebelumnya, kru Els Queen Wisata menjemput peserta tour di hotel pada pukul 09.00. Pada hari ini kami mengunjungi satu objek wisata saja. Objek wisata di Toraja hari ini adalah objek wisata yang paling ditunggu oleh para peserta tour kali ini. Objek wisata tersebut adalah Buntu Burake dimana berdiri patung Tuhan Yesus yang paling tinggi sedunia dari atas permukaan laut. Dari hotel, para peserta wisata sudah berkemas dan cek out dari hotel karena hari ini kami akan langsung bertolak menuju Makassar.

Pukul 10.00 pagi kami sudah tiba di Buntu Burake. Semua peserta tersenyum bahagia. Tidak lupa para peserta tour berfoto bersama dibawah patung Tuhan Yesus. Cukup lama kami berada disini. Pukul 12.00 matahari tepat berada diatas kepala kita. Terik panas matahari menandakan sudah waktunya kami beranjak dari lokasi ini. Karena durasi perjalanan dari Toraja ke Makassar yang panjang, kami menghetmat waktu dan langsung menuju Resto Panorama untuk bersantap siang. Di resto ini, para peserta disuguhkan kuliner khas Toraja lain. Yang paling mencolok adalah masakan bernama Pamarasan dan Piong. Pamarasan merupakan bumbu tradisional khas Toraja. Masakan Pamarasan umumnya memiliki kuah hitam. Sedangkan Piong adalah teknik memasak daging yang dimasukkan kedalam bambu lalu bambu tersebut dibakar di atas nyala api.

Selesai menyantap makan siang, kami dengan Bus Pariwisata Makassar Els Queen langsung bertolak menuju Makassar dan mengucapkan selamat tinggal pada daerah Toraja yang penuh dengan kenangan ini. Rute jalan pulang sama seperti rute yang kami lalui pada saat berangkat dari Makassar ke Toraja. Sama seperti ketika berangkat, kami singgah sebentar di Puncak Bambapuang untuk beristirahat dan coffee break. Perjalanan dilanjutkan hingga tiba di Kota Pare-pare pada pukul 19.00. Sesuai dengan perhitungan Tim Els Queen Wisata, kami bersantap malam di Resto Asia di Pare-pare. Supaya tidak terlalu malam tiba di Makassar, kami langsung berangkat ke Makassar hingga tiba di Hotel Travellers Maakssar untuk cek in pada pukul 23.00.

 

Day 4

Perjalanan wisata belum berakhir. Setelah mengunjungi Toraja, 2 hari kedepan peserta wisata masih akan berpetualang di Kota Makassar. Agenda pada tanggal 20 September 2018 hari ini adalah mengunjungi objek-objek wisata alam yang berada di Kabupaten Maros yang tentunya dengan menggunakan Bus Pariwisata Terbaik dari Els Queen Wisata. Sebelum mengunjungi objek-objek wisata ini, para peserta terlebih dahulu mengunjungi Gereja Kathedral Makassar untuk beribadah pagi pada pukul 06.00. Selesai beribadah, kami kembali ke hotel dahulu untuk makan pagi.

Kami berangkat dari hotel pada pukul 08.30 menuju Kabupaten Maros. Objek wisata pertama yang akan kami kunjungi bernama Leang-leang. Leang dalam Bahasa Makassar berarti lubang atau gua. Memang di Leang-leang ini terdapat banyak sekali gua. Di wilayah Leang-leang terdapat banyak bebatuan besar. Memasuki wilayah wisata Leang-leang, kami dipandu oleh seorang juru kunci. Juru kunci ini adalah petugas yang akan membukakan kunci akses masuk ke gua-gua yang berada di Leang-leang ini. Tiba di salah satu gua, kami melihat jejak-jejak peninggalan manusia pada jaman prasejarah. Terdapat lukisan-lukisan prasejarah di dinding gua.

Beranjak dari Leang-leang, masih di wilayah Kabupaten Maros, kami berangkat menuju Taman Nasional Bantimurung dengan Bus Pariwisata makassar Els Queen, Taman Nasional Bantimurung terkenal dengan penangkaran Kupu-kupu nya. Selain penangkaran kupu-kupu, disini juga terdapat taman rekreasinya. Diujung taman terdapat air terjun besar dimana kita bisa sedikit bermain air dan berfoto bersama. Puas bermain air, berfoto, dan bersantai bersama, hari sudah siang.

Makan siang hari ini  cukup spesial, yaitu makanan khas Makassar yang sudah terkenal hingga seluruh Indonesia. Menu kuliner tersebut adalah Coto Makassar. Coto Makassar sangat kaya akan rasa rempah-rempah. Coto Makassar terdiri dari Daging dan Jeroan Sapi. Coto Makassar tidak dimakan bersama nasi. Namun Coto Makassar ini biasa dimakan bersama ketupat.

Usai santap siang, para peserta kami antarkan untuk berbelanja oleh-oleh khas Makassar. Oleh-oleh khas Makassar dapat ditemukan di kompleks pertokoan oleh-oleh. Kompleks pertokoan oleh-oleh di Makassar berada di sepanjang Jalan Somba Opu. Peserta kami biarkan berbelanja hingga puas dari pukul 14.00 hingga pukul 17.00. Sambil berbelanja kami menghabiskan waktu untuk menunggu sore hari supaya peserta dapat menikmati matahari terbenam atau sunset di tepi Pantai Losari.

Setelah puas berbelanja, rombongan tour bersama tim els queen wisata dan Bus Pariwisata Makassar berangkat ke Pantai Losari. Pantai Losari merupakan Icon Makassar. Itulah kenapa banyak orang bilang jika belum datang ke Pantai Losari, berarti belum berkunjung ke Makassar. Di sepanjang garis Pantai Losari, terdapat beberapa monument berbentuk huruf yang menuliskan nama tiga suku etnis terbesar di Sulawesi Selatan yaitu Bugis, Makassar, dan Toraja. Lokasi Pantai Losari berada bersebelahan dengan pelabuhan, sehingga banyak terlihat kapal-kapal barang yang berlalu lalang. Matahari pun tenggelam tepat didepan mata karena Pantai Losari sendiri menghadap kearah Barat. Usai menikmati suasana Pantai Losari, kami pun makan malam di Resto Pantai Laguna, dan langsung beranjak kembali ke hotel untuk beristirahat.

 

Day 5

Tibalah hari terakhir dari rangkaian perjalanan wisata kami. Pada hari ini kami dengan diantar oleh Bus Pariwisata Makassar Els Queen mengunjungi situs-situs sejarah yang ada di Kota Makassar. Seperti hari sebelumnya, pukul 09.00 rombongan sudah siap untuk berangkat. Semua peserta telah berkemas dan melakukan cek out dari hotel karena hari ini para peserta akan pulang ke Kalimantan Timur dan mengakhiri perjalanan wisata ini.

Bus telah tiba tepat waktu dan kami pun berangkat ke Balla’ Lompoa yang berlokasi di Kabupaten Gowa. Balla’ Lompoa merupakan Istana Peninggalan Kerajaan Gowa. Didalam Istana Balla’ Lompoa terdapat benda-benda peninggalan kerajaan, dan juga ruang pertemuan yang penataan ruangnya masih aslinya. Di sini kita juga dapat menyewa Baju Adat Makassar yang dapat digunakan untuk berfoto.

Situs sejarah berikutnya adalah Fort Rotterdam. Fort Rotterdam merupakan benteng peninggalan jaman penjajahan Belanda. Sebelumnya, Fort Rotterdam bernama Benteng Ujung Pandang. Pada jaman pemerintahan Presiden Soeharto, Kota Makassar diubah namanya menjadi Kota Ujung Pandang. Nama Ujung Pandang diambil dari situs sejarahnya yang paling terkenal yang bernama Benteng Ujung Pandang yang sekarang bernama Fort Rotterdam ini.

Didalam Fort Rotterdam ini terdapat dua bagian Museum. Museum yang pertama berisi benda-benda prasejarah yang ditemukan di area Sulawesi Selatan. Selain benda-benda prasejarah, terdapat pula replika alat-alat yang pernah digunakan oleh masyarakat Makassar pada jaman dahulu kala seperti alat pertanian, perikanan, dan benda-benda lainnya. Pada bagian yang kedua, terdapat manuskrip asli kisah Lagaligo yang merupakan cerita legenda masyarakat Makassar. Selain manuskrip, juga terdapat gambar-gambar ilustrasi kisah Lagaligo.

Setelah mengunjungi objek wisata di Makassar, peserta tour toraja makan siang di salah satu resto seafood di Makassar. Siang itu karena masih terdapat banyak sisa waktu, tim Els Queen Wisata memutuskan untuk membawa peserta berkeliling mencoba kuliner khas Makassar lain yang belum dicoba oleh peserta wisata. Yang paling terkenal selain Coto Makassar adalah Es Pisang Ijo. Selain Es Pisang Ijo, rombongan tour juga sempat dating berbelanja otak-otak khas Makassar.

Pukul 14.30 rombongan menghentikan kegiatan berkeliling kulinernya karena sudah waktunya untuk berangkat ke bandara. Setiba di bandara, para peserta tour dan tim Els Queen Wisata saling bersalaman sambil mengucapkan rasa terima kasih dan salam perpisahan. Bahagia, sedih, haru bercampur aduk jadi satu. Banyak kenangan yang ditorehkan selama lima hari ini. Akhirnya para peserta berjalan menuju bagian keberangkatan bandara. Usai sudah perjalanan wisata kali ini. Kami tim Els Queen Wisata berharap semoga pelayanan kami berkesan di hati para peserta tour, dan menjadi pengalaman yang tak terlupakan.

 

Terimakasih Telah Mempercayakan Els Queen Wisata sebagai Mitra Perjalanan Wisata Anda

Untuk anda yang berencana jalan-jalan lke tana toraja bisa memilih paket-paket yang kami tawarkan seperti:  Paket Tour Makassar 3 hari 2 malam, Tour Makassar 4 hari 3 Malam atau Paket Tour Makassar 5 Hari 4 malam.

Untuk anda yang berencana menggunakan jasa Els Queen Wisata atau Els Queen Transport 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *